Hub Kami : ( 085 )779 188 529
Senin - Sabtu : 09.00 - 22.00

Hidup Bersahaja di Tengah Budaya Pamer

Saya pernah melihat seorang teman yang hidupnya sangat sederhana.
Padahal kalau dilihat dari profesi dan pendapatannya, sebenarnya ia termasuk golongan menengah yang cukup mapan di daerahnya.

Dia seorang perawat anestesi.
Profesi yang tidak mudah, penuh tanggung jawab, dan secara penghasilan pun cukup baik. Dalam sebulan, pendapatannya mungkin bisa menyentuh angka 10 juta rupiah. Sementara di lingkungan tempat ia tinggal, UMR masih berkisar 2,2 jutaan.

Tetapi yang menarik justru bukan besar penghasilannya.

Yang menarik adalah cara dia hidup.

Sepatunya yang mulai rusak tidak langsung dibuang. Selama masih layak dipakai, ia lebih memilih membawanya ke tukang sol untuk diperbaiki. Barang-barang dipakai sampai benar-benar habis manfaatnya. Tidak sibuk mengejar gengsi. Tidak merasa perlu tampil “wah” hanya karena mampu.

Padahal kalau mau, ia bisa saja membeli sepatu baru berkali-kali tanpa berpikir panjang.

Ia juga alumnus asli Universitas Gadjah Mada — bukan yang viral karena dicurigai ijazah aspal. ^^
Pendidikan bagus, profesi baik, penghasilan cukup. Secara sosial, sebenarnya semua “syarat” untuk tampil mewah itu ada.

Namun justru di situlah letak pelajarannya.

Kesederhanaannya bukan lahir dari ketidakmampuan.
Tetapi dari kemampuan mengendalikan diri.

Di zaman sekarang, kenaikan penghasilan sering kali otomatis diikuti kenaikan gaya hidup. Baru naik sedikit, cicilan bertambah. Baru punya penghasilan lebih, mulai sibuk mengejar simbol status. Seolah hidup bukan lagi tentang kebutuhan, tetapi tentang pembuktian.

Padahal budaya ingin terlihat kaya sering kali lebih melelahkan daripada miskin itu sendiri.

Banyak orang akhirnya bekerja bukan demi ketenangan hidup, tetapi demi mempertahankan citra di mata orang lain. Mobil harus terlihat baru. Gadget harus terbaru. Nongkrong harus estetik. Liburan harus bisa diposting.

Ironisnya, semakin besar keinginan untuk terlihat mapan, kadang justru semakin rapuh kondisi keuangannya.

Sedangkan orang-orang yang benar-benar matang biasanya lebih tenang.
Mereka tidak terlalu sibuk mencari validasi.

Mereka tahu bahwa harga diri tidak naik karena merek yang dipakai.
Dan tidak turun hanya karena hidup sederhana.

Ada satu ketenangan yang sulit dijelaskan ketika seseorang bisa membeli sesuatu, tetapi memilih tidak berlebihan. Karena keputusan itu lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan.

Mungkin itu sebabnya orang-orang seperti ini terasa menenangkan ketika diajak berbicara. Tidak banyak pencitraan. Tidak haus pengakuan. Tidak merasa perlu menjadikan hidup sebagai panggung pertunjukan.

Dan semakin ke sini, saya merasa hidup bersahaja justru mulai menjadi kemewahan yang langka.

Sebab di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk pamer, kemampuan untuk tetap sederhana adalah bentuk kedewasaan.
Bagikan artikel ini..!!

0 komentar :

Posting Komentar

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.Siap melayani anda untuk sekedar sharing atau pemesanan jasa kami 24/7.
Hubungi Kami